home
Pilgrimage Sites

Tanah Suci Terus Memanggil...

Saat di Tanah Suci saya memandang jutaan manusia. Alam wilayah itu sebetulnya tidaklah indah dipandang, obyek wisata di negeri sendiri jauh lebih indah. Namun, mengapa orang sebanyak itu ke sana?                

Bagi rohaniwan seperti saya, kehadiran selama di sana menambah wawasan data keagamaan. Kunjungan ke Gunung Sinai di Mesir, misalnya, mengingatkan saya akan Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa.

Merayakan misa di Gereja Padang Gembala di Betlehem, menggerakkan hati mengingat orang-orang kecil. Betapa bahagianya mereka menjadi orang-orang yang diperhitungkan Tuhan menjadi yang pertama  menerima berita Yesus telah lahir.

Kunjungan ke bekas penjara bawah tanah, tempat Yesus ditahan membuat emosi saya betul-betul mendidih. Butir-butir air mata tak terkendali lagi, begitu pula dengan kawan peziarah lain.

Dalam keriuhan kunjungan ke Gereja Makam Yesus, saya berusaha berhening hati dan menutup mulut untuk berbahasa iman, “Yesus, aku memang keterlaluan. Karena aku, Kau harus menderita sengsara.”

Mengunjungi Yeriko tidak cukup menikmati hamparan Bukit Pencobaan dengan kereta gantung yang ke sana kemari. Pohon Ara yang mengingatkan orang pada Zakeus juga tidak boleh dilewatkan. Tinggi badan ragawi kita memang bervariasi: tinggi, sedang, atau pendek. Namun, dalam urusan mencari Tuhan tinggi badan bukan ukuran.

Nasaret dusun yang dulu terpencil kini bersulap rupa. Kota itu menjadi kenangan abadi. Sebab, nasarani sebutan untuk kaum beriman bersama saya mengambil nama itu, Nasarenum, Nasareth.

Tak jauh dari situ terletak kota Kana. Teringatlah pesta pernikahan saat Yesus membuat mujizat pertama. Kita masuk dan berdoa di sebuah gereja. Banyak keluarga mau membaharui janji nikah di sana, untuk bekal melanggengkan masa depan rumah tangga.

Gunung Tabor di balik sana berdiri kekar. Mengingatkan pengunjung akan kejadian epifania Yesus Berubah Rupa.

Sepanjang jalan menurun ke arah lembah, mata pengunjung dimanjakan hamparan hijau lahan pertanian yang digarap dengan teknologi serba canggih. Orang lupa kalau itu Lembah Armagedon, yang digambarkan seram dan menakutkan dalam Alkitab.

Tinggal Tiberias dengan danau Genesaretnya yang bening. Teringat Petrus yang dulu sempat tenggelam karena keragu-raguannya. Juga teringat akan statusnya sebagai nelayan yang dipanggil Yesus menjadi murid-Nya.

Sayang sekali, waktu begitu singkat. Tanah Suci terus memanggil. Di sanalah tapak-tapak Tuhan menoreh sejarah manusia. Pesona pemandangan lenyap bersama kaki yang beranjak pulang. Namun pesona iman tidak pernah redup dan terbatas pada batas-batas wilayah.

Akhirnya, saya mengerti mengapa jutaan manusia selalu rindu berkunjung ke tanah suci. Daya magnetiknya saya rasakan sendiri. Oleh karena itu, saya tidak lagi bertanya sebab sudah memiliki alasan mengapa saya selalu rindu menjadi bagian dari jutaan manusia yang berziarah di sana.

(Tulisan RD.Yohanes Mariano Dangku, Pr. (Rohaniwan asal Keuskupan Ruteng NTT) - Buletin HOPE)

 

Dapatkan Buletin HOPE secara gratis di toko-toko buku rohani dan counter gereja Anda

Pilgrimage Sites lainnya