home
Pilgrimage Sites

Giuseppe Girotti-Martir Kamp Konsentrasi

Ia lahir di Alba, Italia, pada 19 Juli 1923 dan dikenal sebagai anak yang saleh, tekun, dan cerdas. Banyak orang senang bergaul dengannya lantaran pribadinya yang supel, rendah hati, dan tak pandang bulu. Keterlibatannya dalam kegiatan Gereja serta relasinya yang akrab dengan pastor paroki menumbuhkan benih-benih panggilan dalam diri Girotti. Namun, niat untuk masuk seminari sempat mendapat penolakan dari orangtuanya, terutama sang ayah. Setelah berbagai pertentangan, pelan-pelan ayahnya mulai sadar dan mengiklaskan Girotti untuk menjawab panggilan Tuhan.

 

Pada usia 13 tahun, Girotti masuk Seminari Dominikan Chieri, Italia. Disini ia terkenal sebagai seminaris cerdas, saleh, gigih, dan disiplin. Ia juga menunjukkan minat yang besar pada Kitab Suci, Bahasa Latin dan Yunani. Setelah melalui masa pembinaan di seminari, 3 Agustus 1930, Girotti menerima tahbisan imam Dominikan, Ordo Praedicatorium (OP) di Seminari Chieri, Italia. Berkat kemahiran menafsir Kitab Suci, pembesar tarekat mengutusnya belajar Kitab Suci di Universitas École Biblique et Archéologique Française (EBAF), Yerusalem selama dua tahun. Kembali dari studi, ia menjadi pengajar dan ekseget di Seminari Maria delle Rose, Italia. Berbagai karya pun bermunculan dari imam Dominikan ini. Salah satu karya terbesarnya adalah  Prolita di Sacra Scrittura.

 

Di sela tugasnya mengajar, Romo Girotti kerap mengunjungi dan membantu orang-orang miskin dan manula di dekat biaranya.

 

Pada periode kedatangan tentara Jerman Nazi ke Italia, serdadu Adolf Hitler (1889-1945) menjadi mesin pembunuh untuk meluluskan Politik Lebensraum, yaitu menciptakan ruang hidup yang luas bagi ras Arya. Rezim Hitler mendata semua orang, mencinduk dan menjebloskan golongan non-Arya, terutama Yahudi, dan membunuhnya dalam kamp-kamp konsentrasi.

 

Situasi yang sangat memprihatinkan itu menggerakkan hatinya. Ia tak tega mendengar dan menyaksikan kabar penculikan dan pembunuhan terhadap rakyat tak berdosa, hanya karena ideologi sesat. Akhirnya, ia membangun jejaring dengan orang-orang Yahudi. Melalui jejaring ini, ia membuat identitas baru untuk mereka. Di dalam akte kelahiran, ia akan mengganti nama Yahudi dengan nama Jerman sehingga bisa luput dari penangkapan, penyiksaan, atau bahkan pembunuhan. Ia juga menunjukkan dan mengantar sejumlah umat Yahudi keluar Italia.

 

Aksinya diketahui tentara Nazi, tapi upaya mereka menangkap sang imam selalu gagal. Sampai akhirnya ada seseorang meminta bantuannya. Ternyata orang itu adalah mata-mata Nazi. Begitu ia hendak membantu, tentara sudah mengepung. Mereka berhasil menangkap sang imam pada 29 Agustus 1944 dan digelandang ke Villa Cavorette. Di tempat itu, para tentara juga menangkap Joseph Diena, profesor Yahudi yang disembunyikan Romo Girotti. Mereka menjebloskannya ke Penjara Turin, lalu memindahkannya ke Penjara San Vittore, Milan, kemudian ke Kamp Gries, Bolzano, Italia Utara.

 

Dari Kamp Gries tiga bulan kemudian, mereka memindahkan Romo Girotti ke Kamp Konsentrasi Dachau,di Jerman. Di tempat ini, tentara Nazi mengumpatnya dengan kata-kata kasar, menelanjangi, menyetrum, dan membiarkannya menggigil kelaparan. Tak hanya itu, mereka memaksa Romo Girotti dan para tahanan lain untuk bekerja dengan iming-iming kebebasan. Arbeit macht frei, kerja membuat Anda bebas! Namun kenyataannya, Nazi hanya ingin memerah tenaga para tahanan, membuatnya menderita, dan mati secara perlahan-lahan.

 

Kendati siksa fisik dan batin menghujaninya, Romo Girotti tetap tabah memikul salib sebagai pengikut Kristus. Ia menjaga kesalehannya dengan mengisi hari-hari di dalam penjara dengan doa. Ia pun membantu para tahanan yang sakit dan tak segan memberi jatah makanannya pada penghuni kamp konsentrasi yang lebih muda dan menderita darinya.

 

Pada 1 April 1945, sang penyelamat kaum Yahudi ini tutup usia setelah menanggung penderitaan hebat dalam kamp konsentrasi pada usia 40 tahun. Banyak tahanan menduga, tentara membunuhnya dengan suntikan beracun. Di selnya bernomor 26, para rekan tahanan menulis: “Di sini terbaring Santo Giuseppe Girotti”.

 

Pada peringatan 50 tahun kemartirannya, pemerintah Israel menganugerahkan Medali Kemanusiaan kepadanya. Girotti telah berjasa menyelamatkan orang Yahudi selama peristiwa holocaust. Nama dan sebuah pohon untuk Romo Girotti ditanam di lokasi yang dikhususkan untuk mengenang dan mendoakan para korban kebiadaban Nazi di Yad Vashem, Yerusalem.

 

Pada 27 Maret 2013, Takhta Suci mengesahkan dekrit kemartirannya. Berkat jasa, teladan rohani, dan keutamaan hidupnya ini, Paus Fransiskus membeatifikasi Romo Girotti pada 26 April 2014. Perayaan beatifikasi Romo Girotti berlangsung di Katedral San Lorenzo, Alba yang dipimpin Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB.

 

Gereja mengenang kemartiran, teladan rohani, dan keutamaan hidup Beato Girotti tiap 1 April.

 

Sumber: Berbagai sumber

Pilgrimage Sites lainnya